1.
Biografi Jean Piaget
Jean Piaget lahir di
Neuchatel, Swiss, pada tanggal 9 Agustus 1896 dan meninggal pada tanggal 16
September 1980 pada usia 84 tahun. Dia memperoleh gelar doktor dalam bidang Biologi. Sejak masa
remaja Piaget juga tertarik pada filsafat. Hal ini mengarahkan minatnya yang
besar pada epistemologi, suatu cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan.
Dari minatnya pada filsafat ia dikenal sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan
psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal hasil penelitiannya tentang
anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Piaget juga
merupakan perintis besar dalam tori konstruktivis tentang pengetahuan. Karya
Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.
Sejak
masa remaja Piaget tertarik pada filsafat. Hal ini mengarahkan minatnya yang
besar pada epistemologi, suatu cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan.
Piaget berpendapat bahwa cara terbaik untuk memahami pengetahuan adalah
mempelajari asal-usulnya serta bagaimana pengetahuan itu berkembang pada diri
manusia. Hal ini berarti bahwa pertanyaan sentral yang mendasari teori dan
penelitian-penelitian adalah: “ bagaiman pengetahuan berkembang pada manusia?”
lebih spesifik lagi: “bagaimana hubungan antara orang yang memiliki pengetahuan
dengan pengetahuan berubah sepanjang masa kehidupan manusia?”. Berhubungan
dengan itu Elkind (1974) mengemukakan bahwa studi tentang perkembangan kognitif
yang dilakukan Jean Piaget dapat didefinisikan sebagai suatu studi tentang
pengetahuan dan proses mental yang terlibat, tentang bagaimana perolehannya dan
penggunaanya. Satu langkah utama memahami jalan pikiran Piaget ialah
mempelajari konsepsinya mengenai pengetahuan dan bagaimana perolehanya.
Jalan
pikiran Piaget, pertama adalah Piaget tidak setuju dengan anggapan bahwa
pengetahuan adalah informasi atau kepercayaan yang telah dimiliki oleh
seseorang. Ia memandang bahwa pengetahuan sebagai suatu proses. Mengetahui
sesuatu berarti bertindak pada sesuatu, baik tindakan fisik maupun mental. Pada
anak usia 2 tahun pengetahuan bola terdiri dari memegang, meremas dan
menggelindingkannya. Dengan bertambahnya usia anak dan banyak sekali mengalami
pengalaman-pengalaman fisik dan obyek-obyek, ia mampu memproduksi “mental
image” dan simbol-simbol. Inilah yang dimaksud Piaget bahwa pengetahuan anak
menjadi aktifitas mental. Menurut Piaget, pengetahuan merupakan suatu proses
atau rentetan tindakan, bukan sekedar simpanan informasi saja.
Jalan
pikiran Piaget yang kedua adalah, bahwa Piaget tidak setuju dengan anggapan
bahwa persepsi yang merupakan pencatatan dari obyek atau kejadian ke dalam
“mind” anak, merupakan representasi terpercaya dari apa yang sesungguhnya
disaksikan. Piaget berpendapat bahwa persepsi anak tergantung dari pengalaman
masa lampau dan kematangan internal pada saat itu.
Jalan
pikiran Piaget yang ketiga adalah, bahwa ia setuju dengan anggapan bahwa
ingatan kita terdiri dari simpanan pengetahuan yang akan bertambah dengan
bertambahnya pengalaman dan kematangan seseorang. Ia juga sangat setuju bahwa
kita dapat memanggil kembali ingatan itu bila diperlukan. Tetapi Piaget tidak
setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ingatan kita tetap sama dengan
aslinya.
Atas
dasar uraian tersebut, jalan pikiran Piaget dapat disimpulkan sebagai berikut,
pengetahuan merupakan proses dari tindakan, baik fisik dan atau mental pada
obyek, images dan simbol-simbol (keterangan: obyek dapat diperoleh dari
pengalaman langsung, sedang images dan simbol dapat diperoleh tidak hanya dari
dunia nyata tapi juga dari ingatan). Maka perkembangan mental merupakan suatu
usaha yang terus menerus pada anak untuk memperluas dan memperhalus pengetahuan
atau rentetan tindakan mentalnya.
Minat
Piaget pada epistemologi serta pendidikan formalnya dalam biologi melatar
belakangi epistemologi terlalu spekulatif dan pendekatan biologis terlalu
faktual. Maka yang diperlukan adalah jembatan antara keduanya, ialah bagaimana
seseorang dapat meneliti masalah-masalah yang menarik dalam epistemologi dengn
pendekatan ilmiah Biologi. Dan Jawaban atas pertanyaan tersebut ditentukan
semasa Piaget bekerja di Laboratorium Binet Paris yang pada saat itu ada proyek
menstandarisasi tes intelegensi. Piaget mengemukakan bahwa psikologilah yang
menjembatani epistemologi dan biologi.
Dalam
menekuni perkembangan berpikir anak-anak, Piaget menemukan bahwa pikiran anak
kecil berbeda dengan pikiran anak yang lebih besar. Dengan kata lain, pemikiran
Piaget menolak definisi intelegensi yang didasarkan pada jumlah jawaban yang
benar dari suatu tes intelegensi. Masalah intelegensi yang sesungguhnya adalah
menemukan perbedaan berpikir pada anak berbagai usia. Piaget juga mempunyai
anggapan bahwa mempelajari intelegensi dengan tes yang terstandarisasi adalah
terlalu kaku, dalam arti kita terlalu banyak kehilangan informasi bila anak
tidak mengerti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka ia memakai metode
wawancara klinis yang sangat “fleksibel” dalam arti anak diberi kebebasan
menjawab pertanyaan dengan bebas, serta pewawancara diberi kesempatan untuk
menyusun pertanyaan-pertanyaan dengan bebas pula. tujuan metode ini adalah
untuk mengikut jalan pikiran si anak
sendiri, agar mengerti mengapa timbul respon demikian pada si anak.
Teori
Piaget memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan
berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget,
kemampuan untuk secara lebih tepat mempresentasikan dunia dan melakukan operasi
logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori
ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema tentang
bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya) dalam tahapan-tahapan
perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam mempresentasikan
informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme yang
berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang
termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
Piaget
memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif
membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan
interaksi-interaksi mereka. Piaget membenarkan bahwa anak-anak memiliki sifat bawaan ingin tahu dan terus
berusaha memahami dunia di sekitarnya. Keingin tahuan anak terhadap lingkungan
yang dialaminya, ia berusaha mengkontruksikan secara aktif
refresentasi-refresentasi dibenaknya tentang lingkungan yang dia alami. Piaget
yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi
terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan
teman sebaya, khususnya beragumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas
pemikiran yang akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.
2.
Proses Terjadi Perkembangan
Pemahaman
berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam
pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam
otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda.
Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing
individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan
dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia. Oleh karena
itu, pada saat memperoleh pengetahuan menurut Piaget pada saat manusia belajar,
sebenarnya dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan
proses adaptasi.
a.
Organisasi
Orang lahir
dengan kecenderungan untuk mengorganisasikan proses-proses berpikirnya menjadi
struktur-struktur psikologis. Struktur-struktur psikologis adalah sistem untuk
memahami dan berinteraksi dengan dunia. Struktur-struktur yang sederhana
terus-menerus dikombinasikan dan dikoordinasikan satu sama lain agar menjadi
struktur yang lebih canggih dan oleh sebab itu juga lebih efektif. Dengan
demikian organisasi adalah proses penataan informasi dan pengalaman menjadi
berbagai sistem atau kategori mental, yang berlangsung terus menerus (Woolfolk,
2008). Proses organisasi juga dapat diartikan sebagai proses ketika manusia
menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan
yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses
inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan
menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya,
sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau
pengetahuan tersebut.
b.
Adaptasi
Adaptasi
adalah penyesuaian terhadap lingkungan. Proses adaptasi berisi dua kegiatan
yaitu menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh
manusia yang disebut asimilasi dan mengubah struktur pengetahuan yang sudah
dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga akan terjadi keseimbangan
(equilibrium). Dalam proses adaptasi ini, Piaget mengemukakan empat konsep
dasar (Nurhadi, 2004 dalam Baharuddin dan Wahyuni, 2010), yaitu skemata,
asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
1)
Skemata
Piaget menggunakan skema
sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata adalah cara mempersepsi,
memahami, dan berpikir tentang dunia (Hill, 2009). Pikiran harus memiliki suatu
skema yang berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan menata lingkungan
itu secara intelektual.
Secara sederhana skemata
dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu
ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. Skema ini merupakan struktur kognitif
yang senantiasa berkembang dan berubah. Proses yang menyebabkan adanya
perubahan tersebut adalah asimilasi dan akomodasi.
2)
Asimilasi
Proses asimilasi adalah
proses memahami pengalaman-pengalaman baru dari segi skema yang ada (Slavin,
2008). Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata, tetapi mempengaruhi
pertumbuhan skemata. Asimilasi terjadi secara kontinu dalam perkembangan
kehidupan intelektual anak. Dengan demikian, asimilasi merupakan proses
kognitif individu dalam usahanya mengadaptasi diri dengan lingkungannya.
3)
Akomodasi
Akomodasi adalah proses
pemodifikasian skema yang ada agar sesuai dengan situasi baru. Proses pemodifikasian tersebut menghasilkan terbentuknya skema baru dan
berubahnya skema lama. Disini tampak terjadi perubahan kualitatif, sedangkan
asimilasi terjadi perubahan kuantitatif. Jadi pada hakikatnya akomodasi
menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan skemata. Sebelum terjadi
akomodasi, dalam asimilasi ketika anak menerima stimulus yang baru, struktur
mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil. Bersamaan terjadinya
akomodasi, maka struktur mental tersebut menjadi stabil lagi. Begitu ada
stimulus baru lagi, maka struktur mentalnya akan kembali goyah dan selanjutnya
setelah terjadi akomodasi akan stabil lagi. Begitulah proses asimilasi dan
akomodasi terjadi terus-menerus dan menjadikan manusia berkembang bersama
dengan waktu dan bertambahnya pengalaman. Jadi, dalam proses asimilasi stimulus
dipaksa untuk memasuki salah satu yang cocok dalam struktur mental individu
yang bersangkutan. Sebaliknya, dalam akomodasi individu dipaksa mengubah
struktur mentalnya agar cocok dengan stimulus yang baru itu. Dengan kata lain,
asimilasi dan akomodasi secara terkoordinasi dan terintegrasi menjadi penyebab
terjadinya adaptasi intelektual dan perkembangan struktur intelektual.
4)
Keseimbangan
Dalam proses adaptasi
terhadap lingkungan, individu berusaha untuk mencapai struktur mental yang
stabil. Stabil dalam artian adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan
proses akomodasi. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinu, maka yang
bersangkutan hanya memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat
perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya, jika hanya akomodasi saja yang
terjadi secara kontinu, maka individu akan hanya memiliki skemata yang
kecil-kecil saja, dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Individu
tersebut tidak akan bisa melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal.
Itulah sebabnya, ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang oleh
Jean Piaget disebut dengan ekuilibrasi.
3.
Tahap-Tahap
Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Menurut teori
Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan
sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tahab perkembangan kognitif. Empat
tahap perkembangan kognitif tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
|
Tahap
|
Perkiraan
Usia
|
Kemampuan-Kemampuan
Utama
|
|
Sensorimotor
|
(Lahir- 2 tahun
|
Terbentuknyakonsep “kepermanenan obyek” dan kemajuan
gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.
|
|
Pra-operasional
|
(2-7 tahun
|
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk
menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
|
|
Operasi konkrit
|
(7-11 tahun)
|
Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis.
Kemampuan-kemampuan baru termasuk yang penggunaan operasi-operasi yang dapat
balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah
tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
|
|
Operasi formal
|
(11 tahun-dewasa)
|
Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan.
Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui eksperimentasi sistematis.
|
Berdasarkan
tingkat perkembangan kognitif Piaget ini, perlu dicatat bahwa yang disebutkan
hanyalah suatu perkiraan kasar, sebab akan terdapat perbedaan antar individu
maupun antar latar belakang sosio-budaya. Uraian mengenai perkembangan kognitif
ini dimulai dari tahap “pra-operasional” untuk memahami asal mula perkembangan
berpikir pada manusia atau yang disebut Piaget sebagai suatu operasi.
Penjelasan
diskriptif terkait tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget sebagai
berikut:
a.
Tahap
Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Pada tahap
sensori motor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang
dari periode “belum mempunyai gagasan” sampai dengan “sudah punya
gagasan akan adanya suatu benda” Gagasan mengenai benda sangat berkaitan
dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terkoordinir dengan
baik. Perkembangan pikiran anak pada tahap ini dimulai dengan reaksi refleks
anak terhadap rangsangan dari luar. Anak mengatur alam dengan indera-inderanya
(sensori) dan tindakan-tindakannya (motor).
Piaget
berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman
penting dalam enam sub-tahapan:
1)
Sub-tahapan skema
refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama
dengan refleks.
2)
Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari
usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya
kebiasaan-kebiasaan.
3)
Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder,
muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan
koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4)
Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder,
muncul dari usia sembilan sampai dua belas bulan, saat berkembangnya kemampuan
untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda
kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5)
Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier,
muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama
dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
b.
Tahap
Praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahapan ini merupakan
tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget
bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara
kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran praoperasional dalam
teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap
objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara
logika tidak memadai. Dalam tahapan ini anak belajar menggunakan dan
mempresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih
bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang
lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan
semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan
praoperasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai
enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya.
Mereka mulai mempresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar.
Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. D
permulaan tahap ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat
memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama
lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang sekitarnya.
Tetapi seiring pendewasaan, kempuan untuk memahami perspektif orang lain
semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan
menganggap setiap bendayang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahap
Pra- operasional terdiri atas dua sub operasional yaitu sub operasional pertama
antara 2 sampai 4 tahun yang disebut pra logis dan sub operasional kedua ialah
4 sampai 7 tahun yang disebut tahap berfikir intuitif yaitu persepsi langsung
terhadap dunia luar tetapi tanpa dinalar lebih dulu. Pemikiran pra-operasional dapat dibagi menjadi sub-sub
tahapan, yaitu:
1)
Fungsi Simbolik
Pada tahap
ini, anak meraih kemampuan untuk mewakili objek yang tak terlihat secara
mental.
2)
Pemikiran intuitif
Anak mulai
mempraktekkan penaran primitif dan ingin mengetahui jawaban dari berbagai
pertanyaan.
c.
Tahap
Operasional Konkret (usia 7-11 atau 12 tahun)
Tahap
operasional konkrit yaitu tahap 7 sampai 11 tahun. Tahap ini merupakan
permulaan berfikir rasional yaitu memiliki perkembangan sistem
pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu
yang logis, namun tahap operasi konkrit tetap ditandai dengan adanya system
operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/ konkrit.[18]
Anak masih menerapkan logika berfikir pada barang-barang yang konkrit, belum
bersifat abstrak apalagi hipotesis sehingga mereka masih punya kesulitan untuk
memecahkan persoalan yang mempunyai banyak variabel. Proses-proses penting selama tahapan ini
adalah:
1) Pengurutan – kemampuan untuk mengurutkan
objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda
berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke
yang paling kecil.
2) Klasifikasi–kemampuan
untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya,
ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian
benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak
tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan)
3) Decentering
– anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar
tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4) Reversibility
– anak mulai memahami bahwa jumlah ata benda-benda dapat diubah, kemudian
kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa
4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5) Konservasi
– memiliki bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak
berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda
tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya
sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya
berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
6) Penghilangan
sifat Egosentris – kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang
lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai
contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Rani menyimpan boneka dalam kotak,
lalu meninggalkan ruangan, kemudian Sandy memindahkan boneka itu ke dalam laci,
setelah itu baru Rani kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkret akan
mengatakan bahwa Rani akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau
anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Sandy.
d.
Tahap
Operasional Formal (usia 11 tahun-keatas)
Tahap
perkembangan kognitif yang terakhir yaitu tahap operasional Formal yaitu antara
11 tahun keatas. Pada periode ini
terdapat karakteristik tertentu diantaranya, anak sudah dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya
untuk membentuk operasi-operasi yang lebih komplek atau sudah dapat berfikir
abstrak, menalar
secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat
memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis dan nilai. Ia tidak melihat segala
sesuatu hanya dalam bentuk hitam putih, namun ada “gradasi abu-abu” di
antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat
terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa
secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan
perkembangan sosial.
Berfikir
operasional formal memungkinkan siswa untuk mempunyai tingkah laku discovery-inquiry
yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengajukan hipotesis
variabel-variabel tergantung yang mungkin ada. Berfikir abstrak
atau formal operasional ini merupakan cara berfikir yang bertalian dengan
hal-hal yang tidak langsung dapat dilihat.
4.
Aplikasi
Teori Piaget dalam Pembelajaran
Meskipun piaget sendiri tidak banyak menyinggung masalah teknik pendidikan
dalam ulasan-ulasanya. Tetapi pokok-pokok pikiranya dapat mewarnai “setting”
pendidikan, diantaranya:
a.
Pendekatan
terpusat pada anak.
salah satu sumbangan pikiran piaget yang
sangat berarti bagi dunia pendidikan adalah, bahwa pada hakekatnya jalan
pikiran anak terhadap realitas maupun cara pandangnya terhadap dunia sekitar.
Guru harus menyadari hal ini mengobservasi anak dengan cermat untuk menemukan
perspektif yang unik. Jadi yang penting adalah sensitifitas guru.
b.
Aktifitas
Untuk dapat mempelajari sesuatu, anak
membutuhkan kesempatan untuk mengadakan tindakan terhadap obyek yang
dipelajari, konsep piaget bahwa bagi individu berapapun usianya proses belajar
yang paling baik didapatkan dari aktivitas yang merupakan inisiatif sendiri,
sangat penting implikasinya dibidang pendidikan. Piaget selalu menekankan
perlunya aktivitas tersebut baik fisik maupun mental. Menurut piaget,
mengetahui suatu obyek adalah dengan melakukan sesuatu pada obyek tersebut.
Karena itu tugas guru adalah mendorong aktivitas anak didiknya. Guru hendaknya
memaparkan materi atau situasi yang mendorong anak untuk merancang
eksperimenya. Hal ini mengarahkan anak pada pengetahuan yang lebih mendalam dan
tahan lama daripada sekedar ingatan terhadap fakta-fakta yang diinformasikan
oleh guru atau dari buku-buku teks.
c.
Belajar secara
individual.
Menurut piaget, struktur kognitif anak yang berinteraksi dengan
pengalaman baru. Menimbulkan minat dan menstimulus perkembangan kognitif yang
lebih lanjut. Minat belajar akan dimudahkan oleh adanya pengalaman baru yang
selain relevan dengan struktur kognitif yang telah dimiliknya, juga cukup
berbeda, sehingga menimbulkan konflik pada anak. oleh karena pada usia yang
sama stuktur kognitif anak mungkin berbeda, hal yang menarik bagi merekapun
tidaklah sama, sehingga belajar secara individual, dengan kebebasan pada tugas
yang dipilihnya sendiri. Sesungguhnya yang dibutuhkan siswa adalah kesempatan
untuk belajar dengan lingkungan yang kaya. Yang secara potensial mengandung
elemen-elemen yang menarik. Dalam kelas Piaget penyajian materi
jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk
menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
d.
Interaksi
Sosial
Faktor
lain yang mempengaruhi perkembangan adalah pengalaman sosial, atau interaksi
dengn orwng lain, awalnya pemikiran anak sifatnya egosentris, dalam arti anak
hanya memandang orang lain, obyek atau kejadian sekitarnya dalam kaitan dengan
dirinya sendiri. Hal ini pandangan anak tidak secara obyektif. Dalam
perkembangan anak kemudian mengerti sudut pandang orang lain. Dari situlah anak
lebih berpikir obyektif terhadap realitas, sehingga pemikiran yang bersifat
egosentrisme dapat berkurang karena adanya interaksi sosial. Orang lain pun mempuncai
pandangan sendiri, yang mungkin berbeda dengan pandangan anak. interaksi sosial
yang mengarahkan anak pada penyusunan argumentasi dan diskusi, sehingga cara
pandang anak dipertanyakan kebenarannya dan si anak harus mempertahankan dan
membuktikan kebenaran cara pandangnya. Tindakan ini memaksa anak memperjelas
cara pandangnya sendiri, agar dapat meyakinkan orang lain. Dengan demikian,
interaksi sosial akan menolong anak mengenal kekurangan dalam pikiranya sendiri
dan memaksanya untuk melihat cara pandang lain, yang menimbulkan konflik dengan
cara pandangya sendiri. Konflik semacam itu merupakan salah satu melkanisme
dari perkembangan. Aplikasi pandangan Piaget ini ialah bahwa peranan interaksi
sosial perlu dibina di sekolah. Siswa-siswa perlu bertukar pengalaman,
memberikan alasan dan mempertahankan pendapatnya, semua itu akan merupakan cara
yang penting untuk memperoleh pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad
dan Asrori. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Baharuddin dan
Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
Jauhar, M. (2011). Implementasi
Paikem: Dari Behavioristik sampai Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi
Pustakaraya.
Sajarkawi. Pembentukan
Kepribadian Anak (peran moral, intelektual, emosional, dan sosial sebagai wujud
integritas membangun jati diri). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Setiono,
Kusdwiratri. 2008. Psikologi Perkembangan (kajian teori Piaget, selman,
kholberg). Padjadjaran: Widya Pandjanjaran.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik Edisi
Kedelapan Jilid 1.Jakarta: Indeks.
Syamsul Yusuf.
2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya.
Trianto. 2007.
Model-Model Pembelajaran Inovatif
Berstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar