Rabu, 13 Mei 2015

TEORI BELAJAR KOGNITIF JEAN PIAGET

1.      Biografi Jean Piaget
Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss, pada tanggal 9 Agustus 1896 dan meninggal pada tanggal 16 September 1980 pada usia 84 tahun.  Dia memperoleh gelar doktor dalam bidang Biologi. Sejak masa remaja Piaget juga tertarik pada filsafat. Hal ini mengarahkan minatnya yang besar pada epistemologi, suatu cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan. Dari minatnya pada filsafat ia dikenal sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Piaget juga merupakan perintis besar dalam tori konstruktivis tentang pengetahuan. Karya Piaget pun banyak dikutip dalam pembahasan mengenai psikologi kognitif.
Sejak masa remaja Piaget tertarik pada filsafat. Hal ini mengarahkan minatnya yang besar pada epistemologi, suatu cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan. Piaget berpendapat bahwa cara terbaik untuk memahami pengetahuan adalah mempelajari asal-usulnya serta bagaimana pengetahuan itu berkembang pada diri manusia. Hal ini berarti bahwa pertanyaan sentral yang mendasari teori dan penelitian-penelitian adalah: “ bagaiman pengetahuan berkembang pada manusia?” lebih spesifik lagi: “bagaimana hubungan antara orang yang memiliki pengetahuan dengan pengetahuan berubah sepanjang masa kehidupan manusia?”. Berhubungan dengan itu Elkind (1974) mengemukakan bahwa studi tentang perkembangan kognitif yang dilakukan Jean Piaget dapat didefinisikan sebagai suatu studi tentang pengetahuan dan proses mental yang terlibat, tentang bagaimana perolehannya dan penggunaanya. Satu langkah utama memahami jalan pikiran Piaget ialah mempelajari konsepsinya mengenai pengetahuan dan bagaimana perolehanya.
Jalan pikiran Piaget, pertama adalah Piaget tidak setuju dengan anggapan bahwa pengetahuan adalah informasi atau kepercayaan yang telah dimiliki oleh seseorang. Ia memandang bahwa pengetahuan sebagai suatu proses. Mengetahui sesuatu berarti bertindak pada sesuatu, baik tindakan fisik maupun mental. Pada anak usia 2 tahun pengetahuan bola terdiri dari memegang, meremas dan menggelindingkannya. Dengan bertambahnya usia anak dan banyak sekali mengalami pengalaman-pengalaman fisik dan obyek-obyek, ia mampu memproduksi “mental image” dan simbol-simbol. Inilah yang dimaksud Piaget bahwa pengetahuan anak menjadi aktifitas mental. Menurut Piaget, pengetahuan merupakan suatu proses atau rentetan tindakan, bukan sekedar simpanan informasi saja.
Jalan pikiran Piaget yang kedua adalah, bahwa Piaget tidak setuju dengan anggapan bahwa persepsi yang merupakan pencatatan dari obyek atau kejadian ke dalam “mind” anak, merupakan representasi terpercaya dari apa yang sesungguhnya disaksikan. Piaget berpendapat bahwa persepsi anak tergantung dari pengalaman masa lampau dan kematangan internal pada saat itu.
Jalan pikiran Piaget yang ketiga adalah, bahwa ia setuju dengan anggapan bahwa ingatan kita terdiri dari simpanan pengetahuan yang akan bertambah dengan bertambahnya pengalaman dan kematangan seseorang. Ia juga sangat setuju bahwa kita dapat memanggil kembali ingatan itu bila diperlukan. Tetapi Piaget tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ingatan kita tetap sama dengan aslinya.
Atas dasar uraian tersebut, jalan pikiran Piaget dapat disimpulkan sebagai berikut, pengetahuan merupakan proses dari tindakan, baik fisik dan atau mental pada obyek, images dan simbol-simbol (keterangan: obyek dapat diperoleh dari pengalaman langsung, sedang images dan simbol dapat diperoleh tidak hanya dari dunia nyata tapi juga dari ingatan). Maka perkembangan mental merupakan suatu usaha yang terus menerus pada anak untuk memperluas dan memperhalus pengetahuan atau rentetan tindakan mentalnya.
Minat Piaget pada epistemologi serta pendidikan formalnya dalam biologi melatar belakangi epistemologi terlalu spekulatif dan pendekatan biologis terlalu faktual. Maka yang diperlukan adalah jembatan antara keduanya, ialah bagaimana seseorang dapat meneliti masalah-masalah yang menarik dalam epistemologi dengn pendekatan ilmiah Biologi. Dan Jawaban atas pertanyaan tersebut ditentukan semasa Piaget bekerja di Laboratorium Binet Paris yang pada saat itu ada proyek menstandarisasi tes intelegensi. Piaget mengemukakan bahwa psikologilah yang menjembatani epistemologi dan biologi.
Dalam menekuni perkembangan berpikir anak-anak, Piaget menemukan bahwa pikiran anak kecil berbeda dengan pikiran anak yang lebih besar. Dengan kata lain, pemikiran Piaget menolak definisi intelegensi yang didasarkan pada jumlah jawaban yang benar dari suatu tes intelegensi. Masalah intelegensi yang sesungguhnya adalah menemukan perbedaan berpikir pada anak berbagai usia. Piaget juga mempunyai anggapan bahwa mempelajari intelegensi dengan tes yang terstandarisasi adalah terlalu kaku, dalam arti kita terlalu banyak kehilangan informasi bila anak tidak mengerti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, maka ia memakai metode wawancara klinis yang sangat “fleksibel” dalam arti anak diberi kebebasan menjawab pertanyaan dengan bebas, serta pewawancara diberi kesempatan untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan dengan bebas pula. tujuan metode ini adalah untuk mengikut  jalan pikiran si anak sendiri, agar mengerti mengapa timbul respon demikian pada si anak.
Teori Piaget memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, kemampuan untuk secara lebih tepat mempresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam mempresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme yang berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
Piaget memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Piaget membenarkan bahwa anak-anak memiliki sifat bawaan ingin tahu dan terus berusaha memahami dunia di sekitarnya. Keingin tahuan anak terhadap lingkungan yang dialaminya, ia berusaha mengkontruksikan secara aktif refresentasi-refresentasi dibenaknya tentang lingkungan yang dia alami. Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya beragumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.

2.      Proses Terjadi Perkembangan
Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia. Oleh karena itu, pada saat memperoleh pengetahuan menurut Piaget pada saat manusia belajar, sebenarnya dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi.
a.      Organisasi
Orang lahir dengan kecenderungan untuk mengorganisasikan proses-proses berpikirnya menjadi struktur-struktur psikologis. Struktur-struktur psikologis adalah sistem untuk memahami dan berinteraksi dengan dunia. Struktur-struktur yang sederhana terus-menerus dikombinasikan dan dikoordinasikan satu sama lain agar menjadi struktur yang lebih canggih dan oleh sebab itu juga lebih efektif. Dengan demikian organisasi adalah proses penataan informasi dan pengalaman menjadi berbagai sistem atau kategori mental, yang berlangsung terus menerus (Woolfolk, 2008). Proses organisasi juga dapat diartikan sebagai proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut.
b.      Adaptasi
Adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan. Proses adaptasi berisi dua kegiatan yaitu menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia yang disebut asimilasi dan mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium). Dalam proses adaptasi ini, Piaget mengemukakan empat konsep dasar (Nurhadi, 2004 dalam Baharuddin dan Wahyuni, 2010), yaitu skemata, asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
1)      Skemata
Piaget menggunakan skema sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata adalah cara mempersepsi, memahami, dan berpikir tentang dunia (Hill, 2009). Pikiran harus memiliki suatu skema yang berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan menata lingkungan itu secara intelektual.
Secara sederhana skemata dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. Skema ini merupakan struktur kognitif yang senantiasa berkembang dan berubah. Proses yang menyebabkan adanya perubahan tersebut adalah asimilasi dan akomodasi.
2)      Asimilasi
Proses asimilasi adalah proses memahami pengalaman-pengalaman baru dari segi skema yang ada (Slavin, 2008). Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata, tetapi mempengaruhi pertumbuhan skemata. Asimilasi terjadi secara kontinu dalam perkembangan kehidupan intelektual anak. Dengan demikian, asimilasi merupakan proses kognitif individu dalam usahanya mengadaptasi diri dengan lingkungannya.
3)      Akomodasi
Akomodasi adalah proses pemodifikasian skema yang ada agar sesuai dengan situasi baru. Proses pemodifikasian tersebut menghasilkan terbentuknya skema baru dan berubahnya skema lama. Disini tampak terjadi perubahan kualitatif, sedangkan asimilasi terjadi perubahan kuantitatif. Jadi pada hakikatnya akomodasi menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan skemata. Sebelum terjadi akomodasi, dalam asimilasi ketika anak menerima stimulus yang baru, struktur mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil. Bersamaan terjadinya akomodasi, maka struktur mental tersebut menjadi stabil lagi. Begitu ada stimulus baru lagi, maka struktur mentalnya akan kembali goyah dan selanjutnya setelah terjadi akomodasi akan stabil lagi. Begitulah proses asimilasi dan akomodasi terjadi terus-menerus dan menjadikan manusia berkembang bersama dengan waktu dan bertambahnya pengalaman. Jadi, dalam proses asimilasi stimulus dipaksa untuk memasuki salah satu yang cocok dalam struktur mental individu yang bersangkutan. Sebaliknya, dalam akomodasi individu dipaksa mengubah struktur mentalnya agar cocok dengan stimulus yang baru itu. Dengan kata lain, asimilasi dan akomodasi secara terkoordinasi dan terintegrasi menjadi penyebab terjadinya adaptasi intelektual dan perkembangan struktur intelektual.
4)      Keseimbangan
Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan, individu berusaha untuk mencapai struktur mental yang stabil. Stabil dalam artian adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan proses akomodasi. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinu, maka yang bersangkutan hanya memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya, jika hanya akomodasi saja yang terjadi secara kontinu, maka individu akan hanya memiliki skemata yang kecil-kecil saja, dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Individu tersebut tidak akan bisa melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal. Itulah sebabnya, ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang oleh Jean Piaget disebut dengan ekuilibrasi.
3.      Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tahab perkembangan kognitif. Empat tahap perkembangan kognitif tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tahap
Perkiraan Usia
Kemampuan-Kemampuan Utama
Sensorimotor
(Lahir- 2 tahun
Terbentuknyakonsep “kepermanenan obyek” dan kemajuan gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.
Pra-operasional
(2-7 tahun
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek-obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
Operasi konkrit
(7-11 tahun)
Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Kemampuan-kemampuan baru termasuk yang penggunaan operasi-operasi yang dapat balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
Operasi formal
(11 tahun-dewasa)
Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui eksperimentasi sistematis.

Berdasarkan tingkat perkembangan kognitif Piaget ini, perlu dicatat bahwa yang disebutkan hanyalah suatu perkiraan kasar, sebab akan terdapat perbedaan antar individu maupun antar latar belakang sosio-budaya. Uraian mengenai perkembangan kognitif ini dimulai dari tahap “pra-operasional” untuk memahami asal mula perkembangan berpikir pada manusia atau yang disebut Piaget sebagai suatu operasi.
Penjelasan diskriptif terkait tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget sebagai berikut:
a.      Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Pada tahap sensori motor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” sampai dengan “sudah punya gagasan akan adanya suatu benda” Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terkoordinir dengan baik. Perkembangan pikiran anak pada tahap ini dimulai dengan reaksi refleks anak terhadap rangsangan dari luar. Anak mengatur alam dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor).
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman penting dalam enam sub-tahapan:
1)      Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2)      Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3)      Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4)      Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai dua belas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5)      Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6)      Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
b.      Tahap Praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia  dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran praoperasional dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini anak belajar menggunakan dan mempresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan praoperasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai mempresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. D permulaan tahap ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kempuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap bendayang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahap Pra- operasional terdiri atas dua sub operasional yaitu sub operasional pertama antara 2 sampai 4 tahun yang disebut pra logis dan sub operasional kedua ialah 4 sampai 7 tahun yang disebut tahap berfikir intuitif yaitu persepsi langsung terhadap dunia luar tetapi tanpa dinalar lebih dulu. Pemikiran pra-operasional dapat dibagi menjadi sub-sub tahapan, yaitu:
1)    Fungsi Simbolik
Pada tahap ini, anak meraih kemampuan untuk mewakili objek yang tak terlihat secara mental.
2)       Pemikiran intuitif
Anak mulai mempraktekkan penaran primitif dan ingin mengetahui jawaban dari berbagai pertanyaan.
c.       Tahap Operasional Konkret (usia 7-11 atau 12 tahun)
Tahap operasional konkrit yaitu tahap 7 sampai 11 tahun. Tahap ini merupakan permulaan berfikir rasional yaitu memiliki perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis, namun tahap operasi konkrit tetap ditandai dengan adanya system operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/ konkrit.[18] Anak masih menerapkan logika berfikir pada barang-barang yang konkrit, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis sehingga mereka masih punya kesulitan untuk memecahkan persoalan yang mempunyai banyak variabel. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
1)       Pengurutan – kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
2)       Klasifikasi–kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
3)       Decentering – anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4)       Reversibility – anak mulai memahami bahwa jumlah ata benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5)       Konservasi – memiliki bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
6)       Penghilangan sifat Egosentris – kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Rani menyimpan boneka dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Sandy memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Rani kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkret akan mengatakan bahwa Rani akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Sandy.
d.      Tahap Operasional Formal (usia 11 tahun-keatas)
Tahap perkembangan kognitif yang terakhir yaitu tahap operasional Formal yaitu antara 11 tahun keatas. Pada periode ini terdapat karakteristik tertentu diantaranya, anak sudah dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih komplek atau sudah dapat berfikir abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. 
Berfikir operasional formal memungkinkan siswa untuk mempunyai tingkah laku discovery-inquiry yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengajukan hipotesis variabel-variabel tergantung yang mungkin ada. Berfikir abstrak atau formal operasional ini merupakan cara berfikir yang bertalian dengan hal-hal yang tidak langsung dapat dilihat.

4.    Aplikasi Teori Piaget dalam Pembelajaran
Meskipun piaget sendiri tidak banyak menyinggung masalah teknik pendidikan dalam ulasan-ulasanya. Tetapi pokok-pokok pikiranya dapat mewarnai “setting” pendidikan, diantaranya:
a.       Pendekatan terpusat pada anak.
salah satu sumbangan pikiran piaget yang sangat berarti bagi dunia pendidikan adalah, bahwa pada hakekatnya jalan pikiran anak terhadap realitas maupun cara pandangnya terhadap dunia sekitar. Guru harus menyadari hal ini mengobservasi anak dengan cermat untuk menemukan perspektif yang unik. Jadi yang penting adalah sensitifitas guru.
b.      Aktifitas
Untuk dapat mempelajari sesuatu, anak membutuhkan kesempatan untuk mengadakan tindakan terhadap obyek yang dipelajari, konsep piaget bahwa bagi individu berapapun usianya proses belajar yang paling baik didapatkan dari aktivitas yang merupakan inisiatif sendiri, sangat penting implikasinya dibidang pendidikan. Piaget selalu menekankan perlunya aktivitas tersebut baik fisik maupun mental. Menurut piaget, mengetahui suatu obyek adalah dengan melakukan sesuatu pada obyek tersebut. Karena itu tugas guru adalah mendorong aktivitas anak didiknya. Guru hendaknya memaparkan materi atau situasi yang mendorong anak untuk merancang eksperimenya. Hal ini mengarahkan anak pada pengetahuan yang lebih mendalam dan tahan lama daripada sekedar ingatan terhadap fakta-fakta yang diinformasikan oleh guru atau dari buku-buku teks.
c.       Belajar secara individual.
Menurut piaget, struktur kognitif anak yang berinteraksi dengan pengalaman baru. Menimbulkan minat dan menstimulus perkembangan kognitif yang lebih lanjut. Minat belajar akan dimudahkan oleh adanya pengalaman baru yang selain relevan dengan struktur kognitif yang telah dimiliknya, juga cukup berbeda, sehingga menimbulkan konflik pada anak. oleh karena pada usia yang sama stuktur kognitif anak mungkin berbeda, hal yang menarik bagi merekapun tidaklah sama, sehingga belajar secara individual, dengan kebebasan  pada tugas yang dipilihnya sendiri. Sesungguhnya yang dibutuhkan siswa adalah kesempatan untuk belajar dengan lingkungan yang kaya. Yang secara potensial mengandung elemen-elemen yang menarik. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
d.      Interaksi Sosial
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan adalah pengalaman sosial, atau interaksi dengn orwng lain, awalnya pemikiran anak sifatnya egosentris, dalam arti anak hanya memandang orang lain, obyek atau kejadian sekitarnya dalam kaitan dengan dirinya sendiri. Hal ini pandangan anak tidak secara obyektif. Dalam perkembangan anak kemudian mengerti sudut pandang orang lain. Dari situlah anak lebih berpikir obyektif terhadap realitas, sehingga pemikiran yang bersifat egosentrisme dapat berkurang karena adanya interaksi sosial. Orang lain pun mempuncai pandangan sendiri, yang mungkin berbeda dengan pandangan anak. interaksi sosial yang mengarahkan anak pada penyusunan argumentasi dan diskusi, sehingga cara pandang anak dipertanyakan kebenarannya dan si anak harus mempertahankan dan membuktikan kebenaran cara pandangnya. Tindakan ini memaksa anak memperjelas cara pandangnya sendiri, agar dapat meyakinkan orang lain. Dengan demikian, interaksi sosial akan menolong anak mengenal kekurangan dalam pikiranya sendiri dan memaksanya untuk melihat cara pandang lain, yang menimbulkan konflik dengan cara pandangya sendiri. Konflik semacam itu merupakan salah satu melkanisme dari perkembangan. Aplikasi pandangan Piaget ini ialah bahwa peranan interaksi sosial perlu dibina di sekolah. Siswa-siswa perlu bertukar pengalaman, memberikan alasan dan mempertahankan pendapatnya, semua itu akan merupakan cara yang penting untuk memperoleh pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad dan Asrori. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Baharuddin dan Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
Jauhar, M. (2011). Implementasi Paikem: Dari Behavioristik sampai Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Sajarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak (peran moral, intelektual, emosional, dan sosial sebagai wujud integritas membangun jati diri). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Setiono, Kusdwiratri. 2008. Psikologi Perkembangan (kajian teori Piaget, selman, kholberg). Padjadjaran: Widya Pandjanjaran.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik Edisi Kedelapan Jilid 1.Jakarta: Indeks.
Syamsul Yusuf. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar