Rabu, 13 Mei 2015

TEORY KOGNITIF VYGOTSKY

1.      Biografi Singkat
Lev Semyonovich Vygotsky lahir pada tahun 1896 di Tsarist Russia, di suatu kota Orscha, Belorussia dari keluarga kelas menengah Keturunan Yahudi. Dia tumbuh dan besar di Gomel, suatu kota sekitar 400 mil bagian barat Moscow. Sewaktu dia masih muda, dia tertarik pada studi-studi kesusastraan dan analisis sastra, dan menjadi seorang penyair dan Filosof. Vygotsky mulai bekerja dalam bidang psikologi pada tahun 1924 pada saat psikolog Rusia, Luria dan Leontiv, tertarik pada kepandaian dosen muda itu di Intitute of Psychology Moscow. Mereka menyumbangkan psikologi baru berdasarkan aliran Marxisme sebagai bagian dari keadaan sosialis baru yang mengikuti revormasi Rusia.
Vygotsky bekerja kolaboratif bersama Alexander Luria and Alexei Leontiev dalam membuat dan menyusun proposal penelitian yang sekarang ini dikenal dengan pendekatan Vygotsky. Selama hidupnya Vygotsky mendapat tekanan yang begitu besar dari pemegang kekuasaan dan para penganut idelogi politik di Rusia untuk mengadaptasi dan mengembangkan teorinya.
Lev Vygotsky meninggal dalam usia 37 tahun, akibat penyakit TBC, setelah bekerja selama 10 tahun di bidang psikologi. Kepeloporannya dalam meletakkan dasar tentang psikologi perkembangan telah banyak mempengaruhi sekolah pendidikan di Rusia yang kemudian teorinya berkembang dan dikenal luas di seluruh dunia hingga saat ini.
2.      Teori Kognitif menurut Konsep Vygotsky
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori ini berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya.
Perkembangan kognitif berhubungan dengan keterampilan sosial yang diperoleh melalui interaksi sosial dalam kaitannya dengan perkembangan biologis kultural. Demikian konsep ini digagas oleh Psikologi kognitif, Vygotsky, yang lebih menekankan perkembangan kognitif anak dalam perspektif perkembangan social kultural, dan interaksi social.
Vygotsky adalah pengagum Piaget. Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi Vigotsky tidak setuju dengan pandanga Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri. Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama: 
1.      Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
2.      Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya pengembangan intelektual.
3.      Peran guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Menurut teori Piaget Perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif dilingkungan sekolah. Tapi Vygotsky tidak sependapat dengan Peaget, Vygotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan sosial.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat sekunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial diluar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkontruksi pengetahuannya. Perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Konsep-konsep penting teory Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan teori belajar dan pembelajaran antara lain:
a.       Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan anak akan tumbuh dan berkembang melewati dua tatanan, yaitu tatanan sosial tempat anak-anak membentuk lingkungan sosialnya, dan tatanan psikologis di dalam diri anak yang bersangkutan.Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan serta perkembangan kognitif anak. Dikatakan bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri anak akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
b.      Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain.  Zone of proximal development adalah wilayah di antara tingkat perkembangan anak saat ini yang ditentukan oleh kemampuan mengatasi masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan yang dapat dicapai anak melalui bimbingan orang dewasa atau berkolaborasi dengan sebaya yang lebih mampu. Zona perkembangan promaksial dapat juga diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya denga orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak.
Zona perkembangan proksimal bertujuan mendukung pembelajaran secara intensional. Pendekatan sosiokultural Vygotsky tentang belajar dan zona perkembangan proksimal dapat dengan sukses diaplikasikan dalam studi kolaboratif, khususnya dalam kegiatan belajar kelompok.
Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh: memberikal feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
c.       Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk mematuhi proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada.[ 
Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak.
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif.  mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk melakukan regulasi diri, self-planning, self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating. Sedangkan mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem.
Berdasarkan pada teori Vygotsky di atas, maka akan diperoleh keuntungan jika:
a.       Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
b.      Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada tingkat perkembangan aktualnya.
c.       Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya dari pada kemampuan intramentalnya.
d.      Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan procedural yang dapat digunakan untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan maslah.
e.       Proses belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu suatu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.
3.      Aplikasi Teori Kognitif Vygotsky dalam Pembelajaran
a.      Penerapan dalam Pembelajaran
Sumbangan paling penting dari teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat sosiokultural dari perkembangan dan pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar-individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap dalam diri individu.
Gagasan Vygotsky bila diterapkan dalam konteks pembelajaran, guru perlu memperhatikan hal-hal berikut. Pada setiap perencanaan dan implementasi pembelajaran perhatian guru harus dipusatkan kepada kelompok anak yang tidak dapat memecahkan masalah belajar sendiri, yaitu mereka yang hanya dapat memecahkan masalah belajar sendiri, yaitu mereka yang hanya dapat solve problems with help. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan-bantuan tersebut dapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh, petunjuk atau pedoman mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur melakukan tugas, pemberian balikan, dan sebagainya.
Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktifitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya harus sesuai dengan konteks karakteristik anak. Bimbingan oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten bermanfaat untuk memahami alat-alat semiotic, seperti bahasa, tanda, dan lambing-lambang. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak. Maka bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif-kolaboratif, serta pembelajaran kontekstual sangat perlu diterapkan.
Kelompok anak yang cannot solve problem meskipun telah diberikan berbagai bantuan, perlu diturunkan ke kelompok yang lebih rendah kesiapan belajarnya sehingga setelah diturunkan, mereka juga berada pada zone of proximal development nya sendiri, dan oleh karena itu siap memanfaatkan batuan atau scaffolding yang disediakan. Sedangkan kelompok yang telah mampu solve problems independently harus ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu buang-buang waktu dengan tagihan belajar yang sama bagi kelompok anak yang ada di bawahnya.
Dengan pengkonsepsian kesiapan belajar demikian, maka pemahaman tentang karakteristik siswa yang berhubungan dengan kemampuan awalnya sebagai pijakan dalam pembelajaran perlu lebih dicermati artikulasinya, sehingga dapat dihasilkan perangkat lunak pembelajaran yang benar-benar menantang namun tetap produktif dan kreatif.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Lutfi.  2012. Makalah Teori Belajar Kognitif, http://upi-luthfiahmad.blogspot.com, diakses pada tanggal 30/09/2013.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gunawan, Bakti. 2012. Penerapan Teori Belajar Vygotsky dalam Interaksi Belajar Mengajar. http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/31/penerapan-teori-belajar-vygotsky-dalam-interaksi-belajar-mengajar-431539.html, diakses pada tanggal 24/10/2013
Isjoni. 2012. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.
Jarvis, Matt. 2007. Theoritical Approaces in Psychology, diterjemahkan oleh SPA-Teamwork, Teori-teori Psikologi: Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia. Bandung: Penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa.
Muhammad Saifudin, Muhammad. 2012. Teori Kognitif Vygotsky, http://blog.uin-malang.ac.id, diakses pada tanggal 30/09/2013.
Nahampun, Jepris. 2012.  Aplikasi Teori Vygotsky pada Materi Sifat-Sifat Cahaya, http://jeperis.wordpress.com/2012/10/25/aplikasi-teori-vygotsky-pada-materi-sifat-sifat-cahaya/, diakses pada tanggal 24/10/2013
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thalib, Syamsul Bachri. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Woolfolk, Anita. 2009.  Educational Psychology Active Learning Edition Tenth Edition, diterjemahkan oleh Helly Prajitno dan Sri Mulyantini, Educational Psychology Active Learning Edition Edisi Kesepuluh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar