Lev Semyonovich
Vygotsky lahir pada tahun 1896 di Tsarist Russia, di suatu kota Orscha,
Belorussia dari keluarga kelas menengah Keturunan Yahudi. Dia tumbuh dan besar
di Gomel, suatu kota sekitar 400 mil bagian barat Moscow. Sewaktu dia masih
muda, dia tertarik pada studi-studi kesusastraan dan analisis sastra, dan
menjadi seorang penyair dan Filosof. Vygotsky mulai bekerja dalam bidang psikologi pada tahun 1924 pada saat
psikolog Rusia, Luria dan Leontiv, tertarik pada kepandaian dosen muda itu di
Intitute of Psychology Moscow. Mereka menyumbangkan psikologi baru berdasarkan
aliran Marxisme sebagai bagian dari keadaan sosialis baru yang mengikuti
revormasi Rusia.
Vygotsky bekerja
kolaboratif bersama Alexander Luria and Alexei Leontiev dalam membuat dan
menyusun proposal penelitian yang sekarang ini dikenal dengan pendekatan
Vygotsky. Selama hidupnya Vygotsky mendapat tekanan yang begitu besar dari
pemegang kekuasaan dan para penganut idelogi politik di Rusia untuk
mengadaptasi dan mengembangkan teorinya.
Lev Vygotsky
meninggal dalam usia 37 tahun, akibat penyakit TBC, setelah bekerja selama 10
tahun di bidang psikologi. Kepeloporannya
dalam meletakkan dasar tentang psikologi perkembangan telah banyak mempengaruhi
sekolah pendidikan di Rusia yang kemudian teorinya berkembang dan dikenal luas
di seluruh dunia hingga saat ini.
2.
Teori
Kognitif menurut Konsep Vygotsky
Teori belajar
kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Teori ini
menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya
tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori ini berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan
lainnya.
Perkembangan kognitif
berhubungan dengan keterampilan sosial yang diperoleh melalui interaksi sosial
dalam kaitannya dengan perkembangan biologis kultural. Demikian konsep ini
digagas oleh Psikologi kognitif, Vygotsky, yang lebih menekankan perkembangan
kognitif anak dalam perspektif perkembangan social kultural, dan interaksi
social.
Vygotsky adalah
pengagum Piaget. Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan terjadi
secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi
Vigotsky tidak setuju dengan pandanga Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya
sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri.
Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama:
1. Bahwa
intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan
ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
2. Bahwa
interaksi dengan orang lain memperkaya pengembangan intelektual.
3. Peran
guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Menurut teori
Piaget Perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan
tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. seorang anak tidak
dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan
pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan
cara belajar secara aktif dilingkungan sekolah. Tapi Vygotsky tidak sependapat
dengan Peaget, Vygotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari
teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek
internal dan aspek eksternal pada lingkungan sosial.
Menurut
Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut
dengan teori sociogenesis. Dimensi
kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat
derivative atau merupakan turunan dan bersifat sekunder. Artinya, pengetahuan
dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial diluar
dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan
kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang
dalam mengkontruksi pengetahuannya. Perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri
secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Konsep-konsep
penting teory Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan teori
belajar dan pembelajaran antara lain:
a. Hukum
genetik tentang perkembangan (genetic law
of development)
Menurut Vygotsky,
setiap kemampuan anak akan tumbuh dan berkembang melewati dua tatanan, yaitu
tatanan sosial tempat anak-anak membentuk lingkungan sosialnya, dan tatanan
psikologis di dalam diri anak yang bersangkutan.Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai
faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan serta perkembangan kognitif
anak. Dikatakan bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri anak
akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi
intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau
terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial
tersebut.
b. Zona
perkembangan proksimal (zone of proximal
development)
Meskipun pada akhirnya anak-anak
akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari,
Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan
orang lain. Zone of proximal development adalah
wilayah di antara tingkat perkembangan anak saat ini yang ditentukan oleh
kemampuan mengatasi masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan yang dapat
dicapai anak melalui bimbingan orang dewasa atau berkolaborasi dengan sebaya
yang lebih mampu.
Zona perkembangan promaksial dapat juga diartikan sebagai fungsi-fungsi atau
kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah.
Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya denga
orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Gagasan
Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori
belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan
perkembangan kognitif anak.
Zona perkembangan
proksimal bertujuan mendukung pembelajaran secara intensional. Pendekatan
sosiokultural Vygotsky tentang belajar dan zona perkembangan proksimal dapat
dengan sukses diaplikasikan dalam studi kolaboratif, khususnya dalam kegiatan
belajar kelompok.
Berpijak pada konsep
zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri
anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam
proses belajarnya. Orang dewasa dan teman sebaya yang lebih kompeten perlu
membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh: memberikal feedback, menarik kesimpulan, dan
sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
c. Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci
utama untuk mematuhi proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau
lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau
lambang-lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di
mana seseorang berada.[
Dalam kegiatan
pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang
lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik. Anak mengalami proses
internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi
proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak.
Ada dua jenis mediasi,
yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif. mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk
melakukan regulasi diri, self-planning,
self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating.
Sedangkan mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk
memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem.
Berdasarkan pada
teori Vygotsky di atas, maka akan diperoleh keuntungan jika:
a. Anak
memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan
proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
b. Pembelajaran
perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada
tingkat perkembangan aktualnya.
c. Pembelajaran
lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan
intermentalnya dari pada kemampuan intramentalnya.
d. Anak
diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang
telah dipelajarinya dengan pengetahuan procedural yang dapat digunakan untuk
melakukan tugas-tugas dan memecahkan maslah.
e. Proses
belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih
merupakan kokonstruksi, yaitu suatu
proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara
semua pihak yang terlibat di dalamnya.
3.
Aplikasi
Teori Kognitif Vygotsky dalam Pembelajaran
a.
Penerapan
dalam Pembelajaran
Sumbangan paling
penting dari teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat sosiokultural dari
perkembangan dan pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih
tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar-individu
sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap dalam diri individu.
Gagasan Vygotsky
bila diterapkan dalam konteks pembelajaran, guru perlu memperhatikan hal-hal
berikut. Pada setiap perencanaan dan implementasi pembelajaran perhatian guru
harus dipusatkan kepada kelompok anak yang tidak dapat memecahkan masalah
belajar sendiri, yaitu mereka yang hanya dapat memecahkan masalah belajar
sendiri, yaitu mereka yang hanya dapat solve
problems with help. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan
bantuan (helps) yang dapat
memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan-bantuan
tersebut dapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh, petunjuk atau pedoman
mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur melakukan tugas,
pemberian balikan, dan sebagainya.
Bimbingan atau
bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk
meningkatkan produktifitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya harus
sesuai dengan konteks karakteristik anak. Bimbingan oleh orang dewasa atau
teman sebaya yang lebih kompeten bermanfaat untuk memahami alat-alat semiotic,
seperti bahasa, tanda, dan lambing-lambang. Anak mengalami proses internalisasi
yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses
psikologis lebih lanjut dalam diri anak. Maka bentuk-bentuk pembelajaran
kooperatif-kolaboratif, serta pembelajaran kontekstual sangat perlu diterapkan.
Kelompok anak
yang cannot solve problem meskipun
telah diberikan berbagai bantuan, perlu diturunkan ke kelompok yang lebih
rendah kesiapan belajarnya sehingga setelah diturunkan, mereka juga berada pada
zone of proximal development nya
sendiri, dan oleh karena itu siap memanfaatkan batuan atau scaffolding yang disediakan. Sedangkan kelompok yang telah mampu solve problems independently harus
ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu buang-buang waktu dengan tagihan
belajar yang sama bagi kelompok anak yang ada di bawahnya.
Dengan
pengkonsepsian kesiapan belajar demikian, maka pemahaman tentang karakteristik
siswa yang berhubungan dengan kemampuan awalnya sebagai pijakan dalam
pembelajaran perlu lebih dicermati artikulasinya, sehingga dapat dihasilkan
perangkat lunak pembelajaran yang benar-benar menantang namun tetap produktif
dan kreatif.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad, Lutfi. 2012. Makalah
Teori Belajar Kognitif, http://upi-luthfiahmad.blogspot.com,
diakses pada tanggal 30/09/2013.
Budiningsih,
Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gunawan, Bakti. 2012. Penerapan Teori Belajar Vygotsky dalam
Interaksi Belajar Mengajar. http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/31/penerapan-teori-belajar-vygotsky-dalam-interaksi-belajar-mengajar-431539.html,
diakses pada tanggal 24/10/2013
Isjoni.
2012. Cooperative Learning. Bandung:
Alfabeta.
Jarvis, Matt. 2007. Theoritical Approaces in Psychology, diterjemahkan oleh
SPA-Teamwork, Teori-teori Psikologi:
Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan dan Pikiran Manusia.
Bandung: Penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa.
Muhammad Saifudin, Muhammad. 2012. Teori Kognitif Vygotsky,
http://blog.uin-malang.ac.id, diakses pada tanggal 30/09/2013.
Nahampun, Jepris. 2012. Aplikasi
Teori Vygotsky pada Materi Sifat-Sifat Cahaya, http://jeperis.wordpress.com/2012/10/25/aplikasi-teori-vygotsky-pada-materi-sifat-sifat-cahaya/,
diakses pada tanggal 24/10/2013
Suyono
dan Hariyanto. 2011. Belajar dan
Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thalib, Syamsul Bachri. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis
Empiris Aplikatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Woolfolk,
Anita. 2009. Educational Psychology Active Learning Edition Tenth Edition,
diterjemahkan oleh Helly Prajitno dan Sri Mulyantini, Educational Psychology Active Learning Edition Edisi Kesepuluh. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar